Sinergi dan Inovasi Pelaku Seni Budaya Betawi dengan Pemprov DKI Dituntut Kala Pandemi

Silaturahim seniman Betawi di Setu Babakan, Jakarta Selatan, yang digelar oleh Lembaga Kebudayaan Betawi

GerbangBetawi-Masyarakat Betawi harus siap dalam membangun ekonomi dan bisnis berbasis budaya di masa pandemi Covid-19. Kesiapan ini perlu didukung sumber daya manusia, sinergi dengan pemerintah, dan inovasi. Apalagi kondisi ekonomi masyarakat cenderung menurun sehingga pola konsumsi lebih fokus pada pemenuhan bahan pokok, ketimbang kebutuhan lainnya.

“Pelaku seni budaya banyak kehilangan mata pencarian dan harus beralih ke mata pencarian lainnya kala pandemi ini,” kata Iwan Henry Wardhana, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta di Kuliah Daring Gerbang Betawi dengan tema ‘Ekonomi dan Bisnis Berbasis Budaya Betawi’ pada Jumat (19/3).

Bacaan Lainnya

Dalam kuliah daring itu, hadir pula narasumber lain, yakni Muhammad Taufik, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dan Dewan Pakar Gerbang Betawi sebagai pembicara kunci; Chairil Anwar Soleh sebagai Direktur Operasional Gerbang Betawi; dan budayawan Betawi Yahya Andi Saputra. Kuliah sendiri dipandu oleh Ar Dorri Herlambang, arsitek-pegiat budaya Betawi.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Iwan,  pelaku seni budaya harus selalu berinovasi di tengah pandemi. Kemampuan ini tentu saja menjadi modal untuk bertahan. Berdasarkan data terpadu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pada 2014 terdapat 1.232 sanggar yang terverifikasi. Yang masih aktif pada laman Dinas Kebudayaan per 17 Maret 2021 sebanyak 518 sanggar. Ini berarti ada potensi yang bisa segera disinergikan dengan program pemerintah.

Dinas Kebudayaan sendiri memiliki Strategi Pemulihan Ekonomi dan Bisnis di Bidang Kebudayaan dengan menciptakan pasar bagi pelaku seni budaya. Baik melalui kegiatan offline berupa penyediaan booth pameran pada mal di Jakarta maupun kegiatan online seperti membangun platform marketplace Toko Kite. Kemudian menciptakan ‘demand’ hasil produk seni dan budaya Betawi, yakni dari pengelola atau penyelenggara tempat hiburan dan biro perjalanan wajib menyediakan suvenir cinderamata, lalu hotel menampilkan kesenian Betawi dan menghidangkan makanan khas Betawi.

Lima Faktor Kunci

Suryani Motik, Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) sekaligus anggota Dewan Pakar Gerbang Betawi, menyebutkan ada lima faktor yang mempengaruhi perkembangan dalam ekonomi dan bisnis khususnya dalam kebudayaan Betawi, yakni inovasi, informasi, keunikan, modal, dan komitmen pemerintah.

“Pelaku seni budaya ini diharapkan untuk selalu berinovasi dan bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta,” katanya.

Mpok Isra, pelaku UMKM Betawi dengan merek ‘Bir Pletok Bang Isra’, mengaku akan terus bersinergi dengan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta melalui program-program pemerintah, baik melalui pemerintah daerah, pihak swasta ataupun lembaga-lembaga kebudayaan Betawi lainnya. Dia ingin Bir Pletok Bang Isra bisa lebih maju dan berkembang, serta lebih dikenal luas ke depannya.

“Untuk itu kami berharap dukungan dari berbagai pihak sehingga menjadi penyemangat dalam menjalankan usaha. Bir Pletok Bang Isra hadir bukan sekadar mencari peluang bisnis, tapi juga ikut melestarikan kebudayaan Betawi,” tegas dia.

Pos terkait