Ruwahan Betawi: Tradisi Selametan di Betawi yang Nyaris Tak Terdengar

Oleh : Murodi al-Batawi

Ruwahan, merupakan tradisi yang ada di Indonesia. Tradisi ini bukan hanya milik masyarakat Jawa, tradisional yang masih mempertahakan warisan kepercayaan Hindu-Budha. Juga ada pada sebahagian masyarakat Indonesia, termasuk ada juga di komunitas etnis masyarakat Betawi. Tradisi ini biasanya dilakukan pada bulan tertentu, terutama menjelang bulan Ramadhan. Dalam perhitungan kalender Jawa, biasanya dilakukan pada bulan kedelapan. Dalam perhitungan kalender Islam tradisi itu juga dilaksanakan pada bulan ke delapan, yaitu bilan Sya’ban.

Bacaan Lainnya

Karenanya, bulan ini dikenal dengan sebutan bulan Ruwah. Dikatakan bulan Ruwah, karena pada saat itu, menurut sebagian orang, adalah kembalinya para arwah leluhur kembali ke rumah untuk mengunjung sanak keluarga yang maduh hidup. Meski tradisi ini dianggap bid’ah oleh sebagian musliml lainnya, karena dianggap mewarisi tradisi Hindu.

Terlepas dari perdebatan itu, tradisi ini masih diperahankan masyarakat, termasuk masyarakat Betawi. Tradidi Ruwahan yang dahulunya milik umat Hindu, diadopsi Muslim Indonesia dan diisi dengan acara selamatan dan tahlilah.

Acara tradisi Ruwahan ini diikuti saudara, keluarga besar, tetangga dan sahabat. Mereka datang untuk ikut tahlil dan makan bersama di tempat. Selain itu, disediakan panganan yang sering disebut berkat. Berkat inilah yang menjadi santapan keluarga di rumah. Dalam perkembangan selanjutnya,sepertinya tradidi mulai memudah dan nysris hilang daribagenda kegiatan sosial keagamaan masyarakat Betawi.

Asal Usul dan Makna Tradisi Ruwahan

Untuk mengetahui kapan lahirnya tradisi Ruwahan, sepertinya kita perlu melacak lebih serius lagi. Meski awal lahirnya tradisi ini terjadi dalam masyarakat Jawa, ternyata kemudian menyebar ke beberapa daerah di Indonesia, termasuk ke Betawi.

Bagi masyarakat Jawa, Sya’ban adalah bulan yang memiliki makna dan tempat tersendiri di hati masyarakatnya. Karena itu, mereka mengadakan acara selametan untuk menghormatinya, salah satunya acara Ruwahan. Untuk itu, mereka juga sering menyebut bulan Sya,ban dengan bulan Ruwah atau Rowah. Kata Ruwah bentuk jamak darti kata Ruh.

Artinya, mereka percaya bahwa bulan ruwah adalah bulan berdatangannya ruh para leluhur mereka ke rumah masing-masing untuk melihat sanak keluarga yang masih dan mereka minta dido’akan. Meski ini merupakan tradisi Hindu, tetapi mereka meyakini itu sebagai sebuah kepercayaan yang harus dilakoni berupa acara Selametan untuk mendo’akan arwah para leluhur.

Dalam acara Selametan Ruwahan, biasanya mengundang masyarakat, selain saudara dan handai tolan, datang ke rumah yang punya hajat. Mereka berkumpul pada waktu yang ditentukan. Setelah mereka berdatangan, acara baru dimulai. Selesai acara, mereka menyantap hidangan yang disediakan dan disediakan juga makan untuk dibawa pulang. Ini sering disebut dengan berkat.

Setelah itu masyarakat, termasuk masyarakat Betawi, datang ke kuburan untuk membersihkan kuburan keluarganya dan mendo’akan ahli kubur. Dalam masyarakat Jawa disebut Nyadran.

Makna yang terkandung di dalam acara selanetan Ruwahan antara lain; kebersamaan dan kestaraan. Tidak mengenal strata sosial ekonomi. Merka juga setara, tidak yang mrasa lebih tinggi status sosial ekonomi. Itulah makna yang terkandung dari sebuah tradisi Ruwahan.

Terlepas dari perdebatan bahwa Ruwahan adalah tradisi Hindu yang dipertankan masyarakat Betawi, Sekali lagi dikatakan bahwa data dan fakta menunjukkan adanya tradisi Ruwahan, ada dan dilestarikan masyarakat Betawi Meski sekarang sudah jarang dan bahkan nyaris tak terdengar masyarakat Betawi melaksanakan Tradisi Ruwahan. Bagi generasi muda, Gen-Z, mungkin banyak yang tidak tahu adanya tradisi Ruwahan ini. Karenanya, Tradisi Ruwahan di Betawi Nyaris punah{Odie}

Pamulang, 04 April 2024
Pukul 4.50
Murodi al-Batawi

Pos terkait