Plesiran Masyarakat Betawi Usai Lebaran

Oleh : Murodi sl-Batawi

Dahulu, biasanya setelah masyarakat Betawi melaksanakan ritual keagamaan, seperti shalat Idul Fitri, kemudian beramah tamah dengan keluarga besar untuk saling bermaafan, menyantap masakan kuliner yang tersedia, ngored tanah kuburan dan mengirimkan do’a untuk orang tua, saudara dan kerabat yang sudah meninggal.

Bacaan Lainnya

Usai melaksanakan ritual tersebut, mereka berkumpul kembali di rumah orang tua atau saudara tertua dan menunggu anak cucu dan keponakan mereka untuk datang berlebaran.

Setelah mereka dstang dan berkumpul, anak cucu dan keponakan mereka daling ngobrol. Macam/macam obrolan mereka. Maklum, di antara merrka ada yang sering bertemu dan ada yang baru ketemu setahun dua ksli. Saat Idul Fitri dan Idul Adha saja.

Ada tradisi menarik yang terdapat dalam pertemuan tahunan itu, yaitu nyerog duit. Mereka menerima uang. dari orang tua atau paman dan bibi mereka. Ada juga yang mendapat dari hasil nyerog duit, cukup banyak. Bahkan ada yang memperoleh sekitar 300-500 ribu peranak. Uang yang cukup banyak untuk ukuran snsk-anak.

Tradisi Plesiran Masyarakat Betawi

Tidak diketahui secara pasti awal mula lahirnya tradisi Plesiran bagi masyarakat Betawi. Tapi kalau dikulik dari sejarah Nyerog Duit bisa jadi dimulai pada masa kolonial Belanda sekira pada 1900 an.

Seperti ditegaskan pada bagian sebelumnya, tradisi Nyerog Duit yang dilakukan para bocah Betawi usai Lebaran di rumah orang tertua dari keluarga besar, mereka memperoleh hasil nyerog duit, lumayan.

Karena itu, pada sore hari atau pada saat mereka masih berkumpul, para bocah tersebut merencanakan agenda program Plesiran ke tempat- hiburan. Mereka berdiskusi atau rapat kecil-kecilan sebelum terbentuk panitia plesiran keluarga besar mereka.

Mereka sepakai terlebih dahulu waktu dan obyek wisata buat plesiran mereka. Setelah disepakati, mereka baru membentuk panitia plesiran. Panitia ini yang bekerja secara optimal untuk menyukseskan agenda besar buat keluarga besar mereka,

Panitia itu kemudian rapat dan membuat kesepakatan bersama soal lokasi dan anggarannya. Banyak obyek wisata yang mereka usulkan. Kalau obyek wisata di dalam kota Jakarta, mereka menyodorkan obyek wisata ke Kebon Binatang Ragunan, yang dahulu ada di Cikini, Jakarta Pusat, sekarang ada di Ragunan, Jakarta Selatan. Taman Monas, Taman Ria, dan Ancol.

Jika ada yang berkeinginan pergi plesirannya ke pantai, mereka mengusulkan Pantai Pelabuhan Ratu, Sukabumi, sebelum ada jalan Tol Jakarta-Merak. Tapi, setelah ada jalan tol, masyarakat Betawi lebih sering ke Pantai Anyer di Serang, ketimbang Pantai Pelabuhan Ratu, selain Pantai Ancol.

Kalau ada yang mau ke tempat dingin dan sejuk, biasanya mereka mengusulkan plesirannya ke Cibodas atau pegunungan di Puncak. Kalau sekarang, banyak pilihan obyek wisata untuk plesiran keluarga atau group arisan. Mereka bisa pergi ke Bandung dengan berbagai obyek wisata pegunungan, kuliner dan outlet pakaian.

Jadi intinya, memang dari dahulu masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Betawi sangat senang pergi plesiran ke berbagai obyek wisata untuk refresing supaya pikiran lebih fresh lagi.{Odie}

Pamulang, 11 April 2024.
Murodi al-Batawi

Pos terkait