Palang Pintu: Tradisi Serah Terima Pengantin di Betawi

Oleh : Murodi al-Batawi

Di hampir semua acara respsi pernikahan di kalangan komunitas etnis Betawa, selalu ada tradisi dan budaya Palang Pintu. Biasanya, sebelum pengantin pria dan rombongannya memasuki rumah pengantin wanita, selalu disambut oleh rombongan pengantin wanita. Rombongan tersebut dengan para Jawaranya, datang menghampiri rombongan pria. Di saat itulah terjadi sambutan berbalas pantun. Kian lama suasana semakin tegang dengan intonasi yang sangat tinggi.

Bacaan Lainnya

Setelah berbalas pantun, dan suasana semakin panas, maka Jawara perempuan datang menghadang rombongan pengantin lelaki. Menantang Jawara dari pengantin lelaki untuk mengadu kesaktian dan kekuatan. Menurut Jawara pihak perempuan, mereka tidak bisa dan tidak boleh memasuki area perumahan pengantin perempuan, sebelum Jawara pengantin lelaki dapat mengalahkan dan melumpuhkan Jawara dari pengantin perempuan.

Di saat itulah terjadi adu kekuatan fisik, bahkan masing-masing menggunakan senjata golok mereka. Adu senjata golok juga sering terdengar suaranya, sampai mengerikan melihatnya. Tapi, akhirnya Jagoan dari pihak pengantin perempuan dapat dilumpuhkan dan dikalahkan.

Setelah itu, penjaga palang pintu mengizinkan pengatin pria dan rombongan dengan segala barang bawaannya dipersilahkan memasuki rumah penganyin perempuan. Setelah itu, kedua pengantin disandingkan duduk bersama. Setelah semua prosesi selesai, para tetamu undangan dipersilahkan memberikan ucapan selamat menempuh hidup baru buat mereka berdua. Bak raja dan ratu, keduanya senyum sumringah duduk berdua di pelaminan. Menyambut para tetamu yang terus berdatangan.

Palang pintu: Perspektif Historis Antroplogis

Secara histotoris, tradisi Palang Pintu dimulai pada 1874 di daerah Kemayoran, Batavia. Pada saat itu, si Pitung datang melamar seorang putri Jawara Kemayoran. Orang tua si perempuan tidak begitu saja mau menerima kedatangan si Pitung, sebelum diuji.

Ujian pertama dia harus dapat mengalahkan bapaknya perempuan itu, karena bapaknya seorang Jawara. Makan tantangan pertama adu pantun. Balas pantun ini simbol sebagai kemampuan si calon menantu untuk menjaga tradisi lisan, berpantun.

Setelah lama berpantun, akhirnya calon mertua mengakui kehebatan calon menantunya itu. Tapi, calon mertua tidak puas hanya sampai di situ. Dia mengajak calon menantu berkelahi menggunakan secara maksimal keahlian bela dinya, silat, Silat Betawi.

Setelah lama bertanding dengan mengerahkan keahlian bela diri dengan menggunakan golok masing-masing akhirnya sang calon mertua mengaku kalah. Tapi sang calon menantu, belum diizinkan masuk ke rumahnya. Sang mertua masih ingin tahu kemampuan agamanya. Dia di tes lagi untuk membaca al-Qur’an dan baca Shalawat. Jika semuanya dipenuhi oleh calon pengantin pria, calon mertua dan rombongannya diizinkan memasuki rumah mertua dan menemui calon isterinya.

Setelah sang calon menantu dan rombongan diterima dan diizinkan memasuki rumah pengantin perempuan.

Kemudian, calon pengantin pria dan tombongan dengan berbagai barang bawaan, diminta untuk memasuki rumah pengantin perempuan, dan barang bawaan; seperti lemari, tempat tidur lengkap, binatang peliharaan, biasanya kambing dan ayam, buah-buahan, sayur-sayuran, snack, dodol, uli tape ketan, dan roti buaya.

Tradisi ini terus dilestarikan oleh komunitas etnis masyarakat Betawi hingga kini. Karena, tradiysi ini memilki makna yang sangat luar biasa dalam kehidupan masyarakat Betawi.

Tradisi berbalas pantun, merupakan upaya melestarikan tradisi lisan yang ada di masyarakat Betawi. Dalam hal ini masyarakat Betawi sangat peduli untuk terus melestarikannya.

Sementara adu kekuatan fisik yang dilakukan pihak perempuan, upaya melindungi puterinya dari orang yang tidak benar. Terlebih akan menjadi pasanga seumur hidup. Karenanya sang susmi harus bisa menjaga isterinya dari gangguan orang jahat.

Sedang membaca al-Qur’an dan Shalawat, untuk mengetahui ilmu agama yang dia kuasai. Sebab orang tua tidak ingin setelah anaknya dinikahi oleh orang yang kurang atau bahkan tidak beragama, khawatir anaknya akan dipimpin oleh imam yang tidak benar. Sebab dalam pandangan masyarakat Betawi, anak perempuan yang dinikahi itu, menjadi tanggungjawab suami. Dan suami jadi imam yang membimbing isterinya menjadi isteri Salehah, yang selamat dunia akhirat. Sementara orang tuanya sebelum putrinya menikah menjadi tanggungjawab orang tua. Jika imamnya tidak benar, khawatir anaknya tidak akan selamat dunia akhirat. Itulah makna filosofi dari acara Palang Pintu, sebuah tradisi Betwai yang nyaris punah {Odie}.

Pamulang, 14 April 2024

Murodi al-Batawi

Pos terkait