Ngored: Tradisi bersih dan Ziarah Kubur di Betawi

Oleh: Murodi al-Batawi

Setelah Shalat Iedul Fitri, biasanya masyarakat Betawi bersilaturrahim dengan saudara, tetangga dan handai tolan.

Bacaan Lainnya

Setelah itu, mereka makan menikmati hidangan kuliner yang sudah disediakan oleh keluarga, seperti menyantap ketupat sayur pake semur daging kebo, makan kue Kembang Goyang, Tape Uli, disediakan juga dodol Betawi, Geplak, Manisan Pepaya, dan lain sebagainya.

Mereka makan sambil ngobrol ngalor ngidul, ke sana ke mari tidak fakus pada satu masalah. Banyak masalah yang mereka bahas mulai dari politik lokal, soal pemilihan Ketua RT hingga persoalan politik Nasional.

Selepas itu, tanpa ada solusi, mereka bubar, dan beramai-ramai mereka pergi menuju Taman Pemakaman Umu (TPU).

Mereka datang tidak dengan tangan kosong, mereka membawa peralatan yang diperlukan untuk membersihkan makam orang tua, makam saudara dan kerabat.

Masyarakat Betawi, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, bahkan orang tua, berdatangan ke makam untuk secara bersama-sama mebersihakan rerumputan dan ilalang yang sudah meninggi.

Mereka membawa cangkul, pacul, menurut orang Betawi. Pancong, parang atau arit. Semua itu diperlukan untuk membersihkan makam.

Kegiatan pembersihan makam pasca Shalat Idul Fitri, disebut Ngored dalam nomenklatur bahasa Betawi.

Memaknai Tradisi Ngored Kubur

Tidak diketahui sejak kapan orang Betawi memulai tradisi bebersih kubur. Namun hal pasti yang dikatakan di sini bahwa orang Betawi memiliki pemahaman bahwa manusia tercipta dari tanah dan akan kembali ke tanah.

Oleh karena, dahulu kita menyaksikan bahwa orang Betawi banyak memiliki tanah luas. Tanah itu untuk diwariskan kepada anak cucu dan generasi sesudahnya, bukan untuk dijual. Karena itu, dahulu dan mungkin hingga kini masih kita temukan adanya kuburan di dekat rumah.

Hal itu memudahkan bagi orang atau keluarga Betawi untuk sesering mungkin datang ke kuburan untuk berziarah dan bebersih atau _Ngored rerumputan atau ilalang kuburan orang tua dan makam keluarganya. Setelah kuburan dikoredin dan bersih mereka membaca surat Yasin dan berdo’a untuk orang yang sudah meninggal. Mereka berharap orang-orang yang mereka sayangi, diampuni segala dosa dan kekhilafannya.

Bahkan, karena makam tersebut dekat dengan tempat tinggal mereka, hampir setiap hari Jum’at dan hari-hari tertentu, mereka datang untuk membersihkan makam, Ngored dan mendo’akan orang dimakamkan di situ. Terlebih pada saat Idul Fitri atau Idul Adha, mereka selalu datang ke makam untuk Ngored dan berdo’a. (Odie)

Padarincang, Serang
09 April 2024
Murodi al-Batawi

Pos terkait