Ngandil Daging Kebo Lebaran

Proses penyembelihan Andil Kebo di halaman Rumah Budaya, Kp Rawa Denok, Kelurahan Rangkapan Jaya, Kecamatan Pancoran Mas Depok, pada 11 Mei 2021. (Foto: Istimewa)
Proses penyembelihan Andil Kebo di halaman Rumah Budaya, Kp Rawa Denok, Kelurahan Rangkapan Jaya, Kecamatan Pancoran Mas Depok, pada 11 Mei 2021. (Foto: Istimewa)

Oleh : Murodi al-Batawi

Dahulu, mungkin juga masih ada hingga kini, ada sebuah tradisi yang dilakukan komunitas masyarakat Betawi, yaitu potong kerbau, orang Betawi menyebutnya Kebo, menjelang lebaran.

Bacaan Lainnya

Hal ini dilakukan karena hampir setiap lebaran dan hari besar Islam, orang Betawi suka menyembelih kerbau dan dagingnya untuk dijadikan menu makan atau kuliner berupa Semur Betawi kuliner yang sangat khas Betawi, yang biasa tersedia pada Hari Raya Lebaran.

Untuk memenuhi kebutuhan pembuatan Semur Lebaran, biasanya, beberapa bulan sebelum waktu lebaran tiba, masyarakat Betawi berkumpul bermusyawarah dan mengumpulkan uang atau patungan untuk membeli kerbau.

Cara mengolek uang dari mayarakat itu sering disebut Patungan. Masyarakat mengumpulkan uang dikoordinir oleh seorang ketua panitia Ngandil kebo ini. Jika sudah terkumpul uangnya, panitia pergi ke suatu daerah untuk membeli kerbau.

Jika sudah cocok dengan harganya, kerbau dibeli dan dipelihara oleh anggota keluarga patungan tadi untuk merawat dan memeliharanya. Istilah pemelihara kerbau sering disebut Ngangon.

Sang pemelihara kerbau memelihara dan merawatnya hingga menjelang waktu pemotongan. Setiap hari kerbau dikirim ke sawah atau lapangan berumput, agar bisa memakan rerumputan dan dedaunan. Kemudian pada sore hari, setelah dimandikan, diguyang, istilah Betawiny, kerbau digiring pulang ke dan dimasukkan ke dalam kandang.

Kegiatan seperti ini rutin dilakukan tukang ngangon kerbau hampir setiap hari hingga menjelang waktu pemotongan.

Makna Sosial Tradisi Ngandil

Tidak ada data sejarah terkait tradisi Ngandil ini. Fakta menunjukkan bahwa tradisi sudah berlangsung cukup lama dilakukan masyarakat Betawi. Dari hasil ngulik, bisa jadi tradisi ini bagian dari pengaruh tradisi masyarakat Banten, Bogor, dan daerah sekitar Jabodetabe. Karena, saya menemukan tradisi ini di kampung isteri saya di Serang, Banten. Di Serang juga tradisi ini disebut Andilan.

Dari aspek kalimat, kata Ngadil berasal dari kata Andil, artinya punya peran atau saham berupa patungan uang dalam sebuah kegiatan sosial. Kemudian, Ngandil Daging Kebo, artinya seseorang dari anggota masyarakat Betawi, dia berkontribusi dalam bentuk uang yang disimpan oleh ketua atau bendahara pantia andil Kebo.

Masyarakat yang berkumpul kemudian bersepakat mengadakan patungan untuk membeli kerbau. Biasanya, dalam setiap kelompok andil terdiri dati 10 orang. Jadi, jika harga kerbau 15 juta, maka masing-masing anggota harus setor ikut patungan sekitar 1.5 juta perorang. Dan cicilan itu paling lambat dilunasi sehari sebelum pembelian kerbau. Jika berat dagingn kerbau ada sekitar 100 kg, maka setiap anggota patungan mendapatkan 10 kg daging ditambah dengan jeroan dan lain-lain.

Jadi , makna yang terkandung di dalam patungan andil daging kebo adalah nilai kebersamaan dalam memenuhi kebutuhan. Sebab, dengan begitu, terjadi interaksi dan komunikasi intens antara satu anggota masyarakat dengan anggota masyarakat lainnya dalam sebuah komunitas.

Pada saat pemotongan hewan kerbau, pemilik saham (patungan uang) harus hadir menyaksikan penyembelihan. Ini bagian dari kegiatan pemantauan sebagai bagian dari transparansi dan trust yang di bangun dalam sistem sosial kemasyarakatan komunitas etnis Betawi. Itulah makna sosial yang ada dalam tradisi Ngandil daging kerbau dalam sistem sosial masyarakat etnis Beraei {odie}.

Pamulang, 02 April 2024
Pukul 04.30
Murodi al-Batawi

Pos terkait