Nanggok Duit : Tradisi Anak Betawi Nyerog Duit Saat Lebaran

Oleh: Murodi al-Batawi

Usai Shalat Idul Fitri berjama’ah, masyarakat Muslim Betawi kembali ke rumah masing-masing. Kemudian mereka berjabatan tangan untuk bersalaman saling memohon maaf atas segala kekhilafan yang pernah mereka lakukan, disengaja atau tidak.

Biasanya, setelah itu, mereka bersiap pergi mendatangi keluarga atau saudara tertua. Mereka tidak segera pulang, tapi berkumpul bersama menunggu saudara mereka untuk bersua di rumah saudara tertua. Sambil menunggu, mereka menyantap kuliner yang sudah disiapkan tuan rumah dan makanan yang mereka bawa sendiri.

Setelah semua berkumpul, mereka berfoto bersama dan saat itulah mereka membagikan uang receh atau THR kepada anak-anak mereka. Pembagian uang itu sering disebut, Sebar Kemudian, anak cucu dan kemenakan mereka yang menerima uang disebut Nanggok.

Nanggok Duit: Tradisi Anak Betawi Ngumpulin Duit Saat Lebaran di Betawi

Umat Islam yang berkecukupan, dianjurkan Rasul untuk selalu berbagi. Tidak mesti uang, bisa yang lainnya. Tradisi berbagi ini, kemudian dilanjutkan oleh generasi sesudahnya dan berlanut hingga kini.

Berbagi rizki berupa uang kepada sesama, minimal akan membantu muslim lainnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Terlebih berbagi pada saat Ramadhan dan akhir Ramadhan menjelang Lebaran.

Berbagi rizki menjelang Hari Raya disebut THR(Tunjangan Hari Raya) sudah ada dan terjadi pada masa penjajahan Belanda. Dahulu, setiap menjelang Hari Raya, pemerintah Belanda selalu membagikan uang atau insentif buat para Pamong Praja. Insentif itu untuk memenuhi kebutuhan finansial. Tradisi tersebut berlanjut hingga kini, bahkan dibuat peraturannya. Semua penguasaha dan pimpinan harus memberikan THR minimal sat bulan gaji yang mereka berikan karyawan atau anak buah mereka.

Tradisi pemberian uang ini tidak hanya berlaku buat para pegawai pemerintah dan swasta, juga ada dalam keluarga. Banyak anggota keluarga yang minta tunjangan pada hari lebaran.

Untuk itu, setiap kepala keluarga berusaha mengumpulkan uang, entah dari THR yang diterima dari kantor mereka masing-masing atau dari dana ZIS yang sudah diperhitungkan, seperti zakat mal dan zakat profesi.

Pada saat kumpul keluarga besar di Hari Raya, anak cucu dan kemenakan meminta jatah uang. Orang tua mereka sudah mengumpulkan uang pecahan 2 ribuan hingga 20 ribuan untuk diberikan ketika mereka datang dan berkumpul.

Para orang tua sudah menukarkan uang recehan tersebut ke pihak perbankan, jauh hari sebelum hari raya. Anak cucu dan kemenakan yang meminta jatah uang dan mendapatkannya sering disebut _*Nanggok_*. Mereka mengumpulkannya di tas masing/masing dan disimpan untuk kebutuhan mereka kelak.

Dan orang yang membagikan rizkinya untuk anak cucu dan kemenakan, disebut _*Sebar Duit_*
[Odie]

Padarincang, Serang
11 April 2024.
Murodi al-Batawi

Pos terkait