M. Sanif: Serdadu yang Doyan Singkatan

GERBANG BETAWI – Beberapa bulan mukim di kota Karawang, ingatan saya melayang pada sosok Letjen TNI (Purn) Mohamad Sanif, jenderal Betawi yang wafat di Karawang pada 7 Mei 2015. Anak Betawi kiwari mungkin sedikit yang pernah mendengar nama tokoh yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung ini.

Tapi percayalah, bang Sanif – begitu sapaan akrabnya – dikenal sebagai serdadu yang tak kenal takut di medan perang. Tak kurang dari mantan Panglima ABRI Jenderal TNI Benny Moerdani pernah memuji keberanian Bang Sanif di pertempuran.

Salah satu prestasi fenomenal Bang Sanif adalah saat dia masih berpangkat Mayor TNI. Sebagai Komandan Batalion 328 Para Kujang II/Siliwangi, Bang Sanif ditugaskan memimpin langsung operasi untuk menemukan tempat persembunyian dan penangkapan gembong DI/TII S.M Kartosoewirjo di tahun 1962. Kartosowirjo akhirnya berhasil ditangkap dalam kondisi sedang sakit keras, setelah sebelumnya anak buahnya satu per satu dilucuti.

“Lah, kite kan diajarin dari kecil, takut cuma ke Allah,” ujarnya di sela-sela kesibukan mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta tahun 1992. Siapa pun yang pernah bertemu dan bercakap-cakap dengan Bang Sanif pasti sepakat, jiwa patriot dan kecintaannya pada negeri ini luar biasa. Setiap ucapan dan tindakannya juga tegas dan terukur.

Bang Sanif suka dengan singkatan. Secara bergurau dia bilang, namanya adalah kependekan dari sersan infantri. Selain plesetan sersan infantri tadi, dua dari sekian banyak singkatan ciptaan Bang Sanif yang saya masih ingat adalah Bemorak aka Betawi Motor Penggerak dan Albaja atau Alat Bantu Kerja. Tahun ’90-an, dua singkatan itu sering sekali disampaikan Bang Sanif di pidato-pidato sambutannya.

Sampai-sampai, saya dan sejumlah teman dari Keluarga Mahasiswa Betawi (KMB) yang saat itu kerap menemani Bang Sanif di acara-acara kebetawian, suka bertaruh: berapa kali beliau mengucapkan Bemorak dan Albaja di pidato sambutan kali ini? Tentu saja ini cuma kegiatan iseng-iseng kami yang gampang bete berada di tengah-tengah seremonial.

Singkatan Bemorak, menunjukkan keinginan kuat Bang Sanif agar masyarakat Betawi selalu terdepan dalam membangun dan memajukan Jakarta, bahkan kalau perlu Indonesia. Jangan ada kata takut, apalagi rendah diri. “Makanya ente anak muda Betawi harus sekolah tinggi dan punya prestasi,” imbuh Ketua Bamus Betawi 1991-1996 ini suatu ketika.

Sedangkan singkatan Albaja mengacu pada kondisi yang mendukung orang Betawi untuk maju. Bukan hanya menyangkut dana, tapi juga perlengkapan sejalan dengan kemajuan teknologi. Bang Sanif seolah ingin menekankan, orang Betawi mesti pintar mencari dan mengelola sumber keuangan sebagai Albaja, guna melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi.

Pun memanfaatkan teknologi sesuai dengan perkembangan zaman. Saya masih ingat, di awal ’90-an saat teknologi telepon seluler belum semassal sekarang. Bang Sanif selalu menggembol telepon bergerak ke mana-mana. Tentu saja yang menggembol telepon itu bukan dia sendiri, tapi ajudannya. Telepon putar itu disembunyikan rapi di dalam ransel.

Meski wajahnya khas serdadu, anak-anak sekarang bilang “muka perang”, Bang Sanif yang lahir di Kramat, Jakarta Pusat, pada 18 Agustus 1928, doyan bercanda juga. Di rumahnya di bilangan Jalan Bangka, ceplas-ceplos khas anak Betawi kerap terlontar dari mulutnya saat kumpul bareng para tokoh. Sebagai anak muda, saya dan kawan-kawan ogah menimpali, meski kami juga punya jokes yang ingin dilempar. Kharisma beliau bikin kami sungkan. Bagaimana nanti jika jokes kami garing alias enggak lucu? Khawatir dilempar granat sahaja.

Selama karir panjangnya di militer, bang Sanif pernah menjadi Anggota BKR (1945-1946), Komandan Regu (1946-1947), Komandan Pleton (1947-1949), Komandan Kompi Yonif 313/Tajimalela (1949-1961), Komandan Kompi Yonif 330/Tri Dharma (1949-1961), Komandan Kompi Yonif 328/Dirgahayu (1949-1961), dan Wadan Yonif 328/Dirgahayu (1961-1962).

Selanjutnya menjadi Komandan Yonif 328/Dirgahayu (1962-1964), Komandan Kodim 0611/Garut (1965-1966), Kepala Staf Brigif Linud 17/Kujang I (1966-1968), Komandan Brigif Linud 17/Kujang I (1968-1971), serta Kepala Staf Kas Kopur Linud/Kostrad (1971-1972).

Bang Sanif juga pernah memegang jabatan Panglima Divisi Infanteri 2/Kostrad (1976-1977), Komandan Pussenif (1977-1979), Panglima Kodam XII/Tanjungpura (1979-1980), Panglima Kodam II/Bukit Barisan (1980-1981), dan terakhir sebelum pensiun menjabat Asisten Operasi Panglima ABRI (1981-1983).

Setelah pensiun dari ketentaraan, beliau terpilih sebagai Anggota DPR RI periode 1992-1997 mewakili DKI Jakarta dan Partai Golkar, lalu mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta di era Orde Baru (1992), dan Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) periode 1993-1998. Setelah itu, Bang Sanif lebih banyak tinggal di Karawang, sampai menghembuskan napas terakhir pada 2015.

Muhamad Sulhi Rawi
Matraman, 15 Juni 2024

Pos terkait