Filosofi Golok Orang Betawi

“Gagang Golok melambangkan pegangan hidup, Bilah Tajam diartikan sebagai simbol keberanian, serta sarung yang dimaknai dengan diselimuti oleh agama dan keyakinan”

GERBANG BETAWI – Orang Betawi lalu banyak menganalogikan kedekatannya dengan agama lewat filosofi sebilah golok. Gagang Golok melambangkan pegangan hidup, bilah tajam diartikan sebagai simbol keberanian, serta sarung yang dimaknai dengan diselimuti oleh agama dan keyakinan.

Sebagai bentuk penghargaan kepada guru ngaji masing-masing orang tua secara sukarela memberikan guru ngaji uang minyak. Uang minyak ini semacam patungan supaya segala kebutuhan pengajian dapat dipenuhi. Istilah itu pun berubah-ubah seiring zaman.

Uang minyak kadang kala dikenal pula dengan uang listrik. Meski begitu, tiada patokan berapa sebenarnya tiap orang tua memberikan uang kepada guru ngaji. Apalagi banyak guru ngaji tempo dulu mengajarkan dengan suka rela. Alias mereka tak silau harta.

“Selain karena peran orang tua, ada juga peran dari guru ngaji di kampung yang secara konsisten dan instensif membuka surau-surau pengajian mulai dari setelah maghrib sampai lanjut setelah isya. Umumnya hal ini dilakukan oleh guru-guru ngaji secara swadaya mandiri didorong karena kesadaran keagamaan.”

“Alasan lainnya karena guru ngaji mengetahui pentingnya mendidik generasi Betawi selanjutnya yang jangan sampai jauh dari agama dan kebudayaan luhurnya. Jangan berpikir bahwa guru ngaji mendapat gaji, belum tentu. Ada kalanya malah nombok. Lagi-lagi hal ini bukan jadi masalah karena memang niat luhurnya yang menjaga istiqomah di jalurnya. Hal ini yang sekarang mulai hilang. Belajar mengaji bisa lewat virtual akibatnya kehadiran guru ngaji kampung mulai terpinggirkan,” tutup Masykur Isnan ketika dilansir Voice of Indonesia.

Golok Betawi

Menurut G. J Nawi penulis buku Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi (2016). Golok dianggapnya sebagai senjata tajam yang umumnya ditemukan pada masyarakat Melayu dengan penamaan yang berbeda-beda ditiap daerah. Sehingga sebagian besar masyarakat di Pulau Jawa menyebut senjata jenis ‘Bacok’ sebagai Golok.

Seiring waktu, berkat kepopuleran Golok di Batavia (Jakarta) yang sering digunakan oleh para Jago sedari zaman kompeni, pun melahirkan sebuah ungkapan yang terkenal diantara anak-anak hingga orang dewasa berbunyi “bukan laki-laki Betawi namanya kalau tidak memiliki Golok.”

Terkait jenis Golok sendiri. G.J. Nawi menyebut golok Betawi dibagi kedalam dua golongan, yaitu Golok Gablongan dan Golok Sorenan. “Golok gablongan adalah perkakas yang biasa digunakan untuk pekerjaan sehari-hari seperti memotong kayu dan pohon. Ada juga yang menyebutnya bendo atau Golok dapur. Sedangkan Golok sorenan hanya sewaktu-waktu digunakan, untuk keperluan di luar pekerjan harian.”

“Golok sorenan dibedakan menjadi dua. Satunya bernama Golok Sorenan Simpenan untuk memotong hewan (kambing, kerbau, dan sapi) dan satunya lagi, Golok Sorenan Pinggang untuk menjaga diri atau bertarung, yang selalu diselipkan pada pinggang,” ucap G.J. Nawi.

Setali dengan itu Budayawan Betawi yang juga Pimpinan Silat Beksi Kampung Setu Ciganjur, Rohmat S menganggap Golok bukan melulu alat tikam, melainkan dirinya menganggap Golok sebagai sebuah senjata sakral yang tak boleh diperlihatkan apalagi dimainkan secara sembarang di muka umum.

“Golok tidak hanya benda tajam biasa, karena jika diperhatikan, didalam Golok terdapat pula sebuah keindahan serta filosopi yang sungguh tak kalah dengan pusaka lainnya, semisal keris.”

Bagaimana tidak dalam setiap anatomi dari Golok terdapat suatu makna yang mendalam “Gagang Golok melambangkan pegangan hidup, Bilah Tajam diartikan sebagai simbol keberanian, serta sarung yang dimaknai dengan diselimuti oleh agama dan keyakinan”

Oleh karena itu, wajar jikalau sebagai senjata pusaka, Golok pun diwariskan secara turun temurun dalam masyarakat Betawi. Alasannya, sebagai alat pelindung yang dapat dipergunakan sewaktu-waktu apabila terlibat masalah dan tak terdapat kata damai. Disitulah, seseorang yang terlahir dengan darah Betawi, cukup memperlihatkan gagang Golok yang dimiringkan, sebagai tanda bahwa dirinya siap bertarung.

Pos terkait