Berkat, Takbir – Tahlilan Keliling dan Obor Jalanan

Oleh : Murodi al-Batawi

Ketika kecil dahulu, setiap malam Takbiran, ada tradisi yang juga mulai terkikis, yaitu Tradisi Tahlilan Keliling dari satu rumah ke rumah penduduk lainnya. Kegiatan Tahlilan Keliling itu diawali dengan Shalat Maghrib berjama’ah diikuti dengan dzikir dan berdo’a bersama hingga datang waktu Shalat ‘Isya. Setelah Adzan ‘Isya berkumandang, semua jama’ah bersiap melaksanakan Shalat ‘Isya berjama’ah. Setelah itu, jama’ah melakukan Shalat Sunnah Ba’diah ‘Isya. Kemudian, mereka bersiap mengawali Tahlilan Keliling dengan bertahlil berjama’ah di Masjid.

Usai berdzikir, kemudian para jama’ah memulai bertakbir sejenak, sambil bersiap pergi ke rumah penduduk yang memang sudah lama menanti. Satu persatu mulai berjalan menuju lokasi rumah yang pertama. Karena jama’ahnya berasal dari satu atau dua RT, rumah pertama yang dikunjungi adalah rumah pak RT, setelah itu, para jama’ah mendatangi rumah-rumah penduduk lainnya.

Setelah para jama’ah berkumpul di rumah Pak RT, kemudin baru dimulai acara Tahlilan. Acara seperti ini biasanya selalu dipimpin oleh imam masjid atau tokoh agama di kampung itu.

Dan biassnya, dalam acara tahlilan tersebut, tersedia panganan cukup mewah untuk ukuran saat itu. Ada menu nasi putih dengan lauk semur daging, Bekakak ayam, ikan bandeng dan kuliner maknyos lainnya.

Usai bertahlilan, para peserta kemudian makan bersama, Mukbang. Setelah selesai tahlilan dan makan bersama, kemudian tuan rumah menyediakan kresek plastik dan sejenisnya sebagai wadah berkat yang akan dibawa pulang.

Banyak juga para peserta tahlilan yang membawa tempat sendiri yang sengaja dibawa dari rumah. Ada yang membawa keresek sendiri, bahkan ada yang membawa kantong karung terigu bekas yang sudah dicuci bersih. Semua makanan yang disukai, diambil dan dimasukkan ke wadah plastik atau kantong terigu bekas.

Jika semua rumah dikunjungi, maka sudah bisa dipastikan kantong karung terigu yang dibawa dari rumah pasti penuh. Sesampainya di rumah, kantong itu dibukadan dipilah-pilah.

Takbir Keliling dan Obor Jalanan

Dahulu sekira tahun 70-an, ketika belum ada PLN, semua rumah masih menggunakan lampu penerang, Petromax, lampu legendaris. Jika memasuki waktu pukul 10 malam, lampu sudah dipadamkan. Karenanya, perkampungan jadi gelap dan sepi, kecuali pada saat malam Takbiran. Suasana sudah pasti terang benderang, tidak gelap dan jadi ramai.

Selain petromax, khusus di malam Takbiran, biasanya masyarakat membuat penerangan dari obor yang dibuat dari batang bambu yang diberi minyak tanah.

Obor tersebut juga sering digunakan sebagai alat penerang malam hari saat pulang dari Masjid usai mengaji. Dan pada malam Takbiran, juga dijadikan sebagai slat penerang yang dipasang di jalan atau digunakan ketika melakukan pawai Takbir keliling.

Pawai Takbir keliling sepengetahuan saya, masih banyak dilakukan Muslim Indonesia yang diikuti generasi mudanya. Sehingga bisa dapat dipastikan bahwa tradisi ini masih akan terus ada, selagi tetap terus dirawat dengan baik. (Idie).

Pamulang, 06 April 2024.
Murodi al-Batawi

Pos terkait