Bandar Bandot

Oleh : Murodi al- Batawi

Kalau kita ingat zaman dahulu ada sebuah lagu gambang Kromong yang dinyanyikan seniman legendaris, Benyamin S. Judulnya Bandar Bandot. Lagu ini terinspirasi dari realitas sosial masyarkat Betawi bahwa di daerah Betawi dahulu ada seseorang yang cukup tajir bernama Bang H. Ma’ruf al-Batawi (mohon maaf kalau ada kesamaan atau kemiripan nama. Ini hanya cerita legenda seorang tokoh di Betawi).

Bang H. Ma’ruf orang yang tajir dan baik pula. Selain punya kebun dan sawah yang cukup luas untuk ukuran waktu itu. Ia juga rajin berternak. Tidak hanya berternak ayam,kerbau, sapi, juga kambing. Bahkan peliharaan kambingnya sangat banyak, lebih dari empat ratus ekor.

Hampir setiap hari, anak buahnya menggiring kambing ke lahan penuh rerumputan untuk merumput. Sore hari, sebelum itu, semua kambing di mandiin di kali Ciliwung. Setelah itu, baru semua kambing digiring kembali ke rumah untuk masuk kandang.

Karena ternak kambingnya cukup banyak, Bang H. Ma’ruf sering dipanggil Bandar Bandot. Bandot adalah kambing berjenis kelamin jantan. Dari sekian banyak bandot, ada sekitar seratus lima puluh ekor yang menjadi andalan.

Kenapa…? Biasanya Bandot menjadi harapan bagi pemilik kambing lainnya untuk dikawinkan dengan kambing betina milik seseorang. Bandot milik Bang H. Ma’ruf, sangat bagus berbadan kuat dan gemuk, gemoy istilah anak sekarang, sehingga menjadi harapan pemilik kambing betina lain, jika kambing betina bunting, akan beranak bagus.

Perkawinan antara kambing Betina milik orang dengan Bandot Bang H. Ma’ruf, hampir terjadi setiap hari. Bahkan sehari bisa mengawinkan sekian puluh kambing betina. Kalau di tempat orang lain, ngawinin Betina kudu bayar. Tapi, Bang H. Ma’ruf menolak pembayaran.

Itulah kebaikan Bang H. Ma’tuf yang dia tunjukkan ke masyarakat Betawi lainnya. Dari situlah kemudian Bang H. Ma’ruf dikenal sebagai Bandar Bandot.

Bandot dan Hari Raya

Pada saat tertentu, semisal idul Adha, Bang H. Ma’ruf, saudagar Bandot makin bersinar. Kambingnya yang jumlahnya ratusan selalu dicari orang, terutama dari panitia kurban. Mereka berdatangan untuk membeli kambing buat dijadikan hewan kurban.

Hampir semua panitia kurban membeli kambing dari Bang H. Ma’ruf, selain harganya cukup murah bila dibandingkan dengan harga di tempat lain, juga kambingnya bagus dan sehat. Karena selalu dirawat dengan baik dan tekun oleh anak buahnya. Saat itulah Bang H. Ma’ruf kelihatan benar-benar jadi saudagar Bandot.

Ada hal yang mesti kita banyak belajar dari Bang H. Ma’ruf, yaitu dia selalu tak lupa bayar zakat, menginfakkan sebagian hartanya dan selalu sadaqah. Kata para ustadz, banyak bersadaqah, banyak membuka pintu rizki.

Karenanya, hampir dipastikan setiap tahun dia selalu melaksanakan ajaran Islam untuk berzakat. Dia benar-benar selalu menyisihkan minimal 2.5 persen dari penghasilannya buat berzakat. Terlebih setelah Idul Adha, paling getol bayar zakat harta dan zakat profesi lainnya, dia sebagai pedagang kambing profesional wajib mengeluarkan zakat tersebut.

Selain hari raya Idul Adha, Bang H. Ma’ruf juga menerina permintaan aqiqah dari keluarga dan dari para pedagang sate kambing. Kalau yang disebut terakhir, Bang H. Ma’ruf sudan menjadi langganan tetap dari para penjual sate Madura dan sate- sop kambing Betawi dan Tengkleng Betawi. Termasuk pedagang sate dan sop Betawi. Bahkan ada penjual nasi goreng Kambing Betawi cukup terkenal, juga menjadi pelanggan tetap Bang H. Ma’ruf. {Odie}

Pamulang, 12 April 2024
Pukul 5.30
Murodi al-Batawi

Pos terkait